Kulirik jam dinding sejenak, " hmmm.. masih jam 3 dan kau tau apa yang kupikirkan saat itu kuingin segera mungkin pergi ke lapangan sekolah. Bukan mau ikut lomba foli atau meliat anak anak kelas lain melakukan olahraga, namun berdiam saja disana menunggu dia, seseorang yang berhasil membuatku tak konsentrasi belajar lewat dengan sepeda warna birunya, rasanya tak ingin aku berkedip saat itu.... seakan waktu itu tak setuju dengan pendapatku semua lamunan itu buyar ketika isa teman sebangkuku menegurku
"hoeeee.. ngapain kau, ayo kerjakan tugas" sambil senyum senyum dia melihat ekspresiku.
Tanpa berkata apa2 aku pun mengerjakan tugas yg sedari tadi diberikan bu salma guru pkn di kelasku.
"et dah tak bisakah kau meliat orang senang sejenak" gerutuku dalam hati. kupandang saja buku itu dan pensilku mulai menari nari diatas kertas bergaris itu tanpa memasuki apa yang dimaksud isa itu.
"Berlariiiiii terussssssss" seruu isa
Sementara temanku yang lain fany,asri,mey dan ratna pun hanya bisa terheran heran melihat tingkahku.
"apaan" tanya asri kepada isa. " hahahahah, enggak apa-apa biasa orang gila" kata isa
Memang hanya isa yang tahu soal ibad cowok sekolah kejuruan yang selalu kutunggu ketika dia lewat,selain itu juga karna isa adalah temannya sedari smp dan sempat deket pula jadi tak ada rasa ingin menutupi darinya toh isa orangnya jg baik.
Akhirnya nyampek juga dilapangan " sedari tadi kek istirahatnya" gerutuku
tepokan tangan asri mengagetkanku kala itu.
"
hoeeee ngapain dikau bah lari-lari kaya dikajar pak mufit aja" kata asri dengan logat kalimantan timurnya..
"enggak cuma pengin lari aja.. heheheheheh" terpaksa nyengirlah aku
Ternyata dia sore itu menaiki sepedanya dan tersenyum manis, entah tersenyum dengan siapa dia yang ku tahu dia hanyalah seseorang yang membuatku ingin dihukum berlari supaya bisa melihatnya. ehhh usut punya usut isa sudah dibelakangku dan mulai mengerti maksudku.
" ohhhh.... ituuuu.. si ibad toh, kenapa kau suka kah ???" sambil senyum2 dia memberiku es dari tangannya.
" hahhh,, ngapain kau disini, udah sana-sana apaan sih " ekspresi terkaget kaget sambil ku dorong dia supaya pergi..'
" aku tau, kau menyukainya kan???, tapi sayang dia sedang sakit...." bilangnya lirih
''akh bercanda aja kau itu, sakit apa ?? " kataku sambil meminum es yg diberi isa tadi
Lalu mulailah ia bercerita akan sakitnya ibad. "Dia sakit kanker " bilangnya lirih. Barulah saat itu aku berhenti menertawai kata-katanya. "mungkin, banyak yg gak tahu kalau sebenarnya dia sakit keras sedari kecil. Dengar dengar dari si angga sih sekarang baru mau kemoterapi."
"wait..wait..wait.. angga ??? siapa itu angga. emang angga siapanya ibad." tanyaku seakan tak sabar
"ya itu angga, tetangganya yg sering berboncengan ama dia " jawabnya
" jadi dia sakit... sakit kanker apa.." seakan tak puas kutanya lagi dia
sedang ekspresinya hanya senyum - senyum saja meliat ku. "ihhhh... napa kau tersenyum senyum begitukah ??? emang aneh ??? ayolah jelasin ke aku" tanyaku sembari melihat isa yang sedari tadi hanya senyum-senyum saja meliat ekspresiku.
Dengan panjang lebar dia menceritakan semua yang dia ketahui tentang ibad. Dan tak terasa waktu pun berlalu. Dan suara bel sekolah menunjukkan masuk kelas berbunyi.Aku hanya bisa tertunduk dan berpikir mungkin waktu ku untuk mengenalnya pun singkat. Aku pun tak pernah berpikir akan berpikir sejauh ini untuk bisa mengenalnya sebelum waktu yang dia punya habis. Hampir tak mungkin rasanya aku bisa mengenalnya. Meski ku tau aku bisa mengenalnya lebih cepat kalo berteman baik dengan clara teman sekaligus tetangganya. Tapi aku tak mau kalau hanya memanfaatkannya saja. Aku berdiri dan berjalan dengan separuh jiwa rasanya.
Brakkkkkk... "haduhhhh.... pelan-pelan woee kalo jalan.." sautku dengan ketus
kuliat dia, ternyata itu hayati, anak sekelasku yang suka ngocol kalo ngomong. " maaf-maaf gak sengaja aku juga buru-buru ini.."
"kamprett kau.." teriakku. Dan dia hanya senyum-senyum saja " dasar sarap kau " pikirku dalam hati
Beberapa hari akhirnya berlalu dan akhirnya tibalah hari ulang tahunku, dan aku melakukan kesalahan dengan membuat permintaan yang salah. " ya Allah jika memang aku tak bisa bertemu dengannya, aku mohon agar di hari ulang tahunku ini aku bisa bertemu dengannya meski sebentar saja aku rela. "
Dan ternyata setelah itu berjalan kesekolahan dijalan aku bertemu dengannya.. dia tersenyum lagi sungguh manis sekali. Rasanya tak mau aku berhenti menatapnya, namun apa daya hari itu berlalu begitu cepat. aku tak bisa menghentikan waktu. Aku baru sadar kalau Allah begitu sayang padaku, dia mengabulkan doaku. tapi disisi lain aku harus menerima kenyataan bahwa aku harus rela untuk tak melihatnya selamanya.
Waktu berlalu begitu cepat, dan sampai saatnya teman SMP ku linda, cupo dan nur datang kerumahku. dan linda pun mulai ribet dengan hp baru serta catatan nomer-nomer hp di tangannya.
"eh lin, sedari tadi ribet aja kau sendiri " celoteh nur dari balik jendela rumahku
"yehhhh.. sewot lu nur, ini hp baru ini jadi harus ditulis ulang ini nomer-nomernya " saut linda, " ehh archie tolong bacain dong nomernya satu-satu" sembari memberikan kertas kepadaku.
Akupun hanya senyum-senyum saja, karena aku tahu sifatnya.
"iya-iya " sautku
baris demi baris kubaca dengan seksama, sampai aku menemukan nama yang sepertinya aku sudah kenal.
"ibad" kubaca lirih.
"siapa ini ibad" sembari ku berikan kembali kertas yang penuh dengan nomer-nomer itu kepada linda.
"ohhh.. ini temen nya si cupo, itu anak perkayuan yang sering mimisan dan pingsan kalau lagi upacara." jawab linda dengan tetap mencatat nomer-nomer di hp barunya
"iya, itu si ibad anak belakang sekolah lu kan ??" saut cupo yg baru datang dari beli bensin.
"boleh ku minta nomernya ?? " kataku
"kenapa, suka kau ama dia " tanya nur
aku hanya tersenyum, dan akhirnya aku mendapatkan nomer hp nya. segera malam dia ku sms dan ku ajak bercerita panjang lebar tanpa ada yang ku ketahui maksud dan tujuan pembicaraan kami.
Dan, akhirnya mulai pada hari itu setiap malam dia selalu mengirim pesan di hp ku, malam sekali malah.Tapi sayang aku pun tak pernah bertatap muka dengannya. Awalnya aku tak menyangka kalau ibad akan memberiku pesan bergambar I LOVE YOU, dan sontak aku pun tersenyum senyum dalam keadaan setengah ngantuk, ya gila aja waktunya orang tidur itu malah ngajak curhat.
Besoknya kuceritakan itu pada isa teman sebangkuku, dan hanya tersenum dan berkata " selamat.. tapi kau tak pernah kah menelfonnya ??"
Aku pun terdiam dan menggelengkan kepalaku. Isa memandangku dan mengerti maksudku dan menyemangatiku lagi.
"gak papa kalo begitu, sabar.. pasti suatu saat kau akan bisa menatapnya dari depan, selama yang kau mau" sambil menepuk punggungku.
"bahasamuuu... huhhhhhh" kataku
"ya habiss.. sedih mulu sih, ehh besok anak-anak mau ke puncak ikut ya ??" pinta isa
" yaa.. tapi kan besok kita les geografi di rumah pak aman, gimanan sih kau. udah jatuh tempo kali udah 2 kali kita mangkir dari les itu" kataku
"siang kali archie, lesnya kan pagi. emang kau mau nginap dirumahnya pak aman sampai besok " saut isa
"setuju aja, kita besok rame-rame kok" ujar fanny dari belakang
"okeeee" jawabku
Keesokan harinya ku beranikan diri untuk menelfon ibad, dan mungkin kondisinya saat itu sedang gak baik untukku menyapanya. Perlahan ku tunggu sampai ada yang mengangkat dan bicara " Halo, ini sapa?? "
"ehhhhh... saya mau cari ibad ini nomernya ibad bukan "
samar-samar kudengar suaranya dari hp ku.. entah aku yg salah dengar atau dia yang lgi sakit. Kudengar dia bicara " mau ngapain lu, dia gak ada "
tut...tut..tut.. bunyi hpku langsung dimatiin saja oleh orang di seberang sana yang mengangkat telfon ku tadi. kupandangi saja layar hp ku dan berkata " kok dimatiin is "
" lagi sibuk kali " saut isa yang sedari tadi berdiri di depanku.
Sedih dan khawatir atas keadaannya menjadi salah satu masalah yang masih menggelayut di benakku. Jangan-jangan dia sedang sakit parah atau mungkin dia dirumah sendiri dan tak ada yang menjaganya atau mungkin sesuatu yang buruk terjadi. " Akh, mikir apa aku ini " dalam hati
Selang beberapa hari setelah kejadian di puncak itu, dia tak memberi kabar sama sekali. Hatiku pun bertanya sedang apa dan bagamaina kabarnya. Sampai pas jam istirahat tiba, clara memberi kabar kalu ibad telah tiada. Aku tak percaya, kalau dia telah tiada.
" Enggak mungkin clara, gak mungkin, ini gak mungkin pasti kau salah." kataku
Tanpa terasa air mataku pun menetes. " kalau kau tak percaya, its oke, tapi aku enggak bohong. kau bisa menanyakan pada angga kau kau mau. Dan kau mau ke rumah nya denganku. " jawab clara dengan nada lirih
Ibad memang baik, sehingga banyak orang yang menyayanginya bahkan ketika dia telah pergi terlihat banyak teman yang mendoakannya. bahkan dia bisa merubah clara yang dulu sombong dan angkuh menjadi orang yang baik.
Dan besoknya ketika aku pulang dari sekolah kudapati hp ku berbunyi dan masih terpampang wallpaper foto yang dia berikan. " Betapa aku sangat merindukanmu bet, andai kau disini " bisikku dalam hati.
andai aku juga punya kesempatan untuk mengatakan kalau aku juga menyayangimu bet, pasti aku enggak akan merasa penasaran atas tanggapanmu.
Aku masih ingat kata-katanya sewaktu masih hidup " Kau jangan sedih karena kau masih punya waktu untuk memperbaiki semua kesalahanmu, semangatlah ". Aku janji bet, aku akan berusaha aku pasti bisa aku harus bisa... terimakasih atas semangatmu bet kau memang orang yang baik.